Gadis Usia 2 Tahun di Suriah Kehilangan Seluruh Keluarganya Akibat Serangan Udara Rusia

Seorang anak perempuan berusia dua tahun di Suriah kehilangan seluruh anggota keluarganya akibat serangan udara yang dilancarkan Rusia.

Anak perempuan bernama Khadijah al-Hamdan itu diselamatkan dari bawah reruntuhan rumah keluarganya di wilayah Idlib, setelah diterjang serangan oleh jet tempur Rusia.

Perempuan balita itu diselamatkan oleh petugas Pertahanan Sipil Suriah (SCD) atau yang juga dikenal dengan Helm Putih.

Namun sayangnya, hanya Khadijah yang selamat, sementara ayah, ibu, dan dua saudara kandungnya tewas dalam serangan udara itu.

“Dia adalah satu-satunya yang selamat,” kata kakek anak perempuan itu, kepada BBC, pascaserangan udara, yang diyakini telah terjadi pekan lalu. Nama kakek itu tidak disebutkan dalam laporan.

“Kami mengambil jenazah anggota keluarganya dari rumah sakit. Kami kemudian menguburkan mereka,” tambahnya.

Pemerintah Suriah dan sekutunya, Rusia, baru-baru ini mulai kembali mengintensifkan serangan militer mereka ke wilayah Idlib, setelah periode yang relatif tenang pascagencatan senjata yang disepakati September tahun lalu.

Pada minggu pertama bulan Mei, lebih dari 180 orang telah dilaporkan tewas dan lebih dari 150.000 orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Demikian menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, yang mengawasi konflik di Suriah, kepada The Independent.

Di antara para korban tewas termasuk sekitar selusin anak-anak.

” Serangan udara menargetkan desanya lagi dua hari yang lalu,” kata Khaled Khatib, salah seorang petugas media di Helm Putih kepada The Independent, Jumat (10/5/2019).

“Kami tidak tahu lagi apa yang terjadi pada gadis kecil itu setelahnya,” tambah dia.

Idlib menjadi benteng terakhir yang dikendalikan kelompok oposisi Suriah, setelah pasukan rezim Bashar al-Assad menyapu bersih seluruh wilayah negara itu dan merebut kembali wilayah dari kelompok pemberontak.

Gencatan senjata yang diperantarai Rusia dengan Turki, yang mendukung pemberontak, tercapai pada September 2018, guna menahan serangan yang direncanakan oleh pasukan Suriah, yang dikhawatirkan bakal menghancurkan sekitar 3 juta warga sipil.

Namun kesepakatan yang mengharuskan kelompok pemberontak untuk menyerahkan seluruh senjatanya dan menarik diri dari daerah itu, tidak dipatuhi oleh salah satu kelompok pemberontak, Hayat Tahrir al-Sham.

Serangan terus dilancarkan kelompok ekstremis bekas afiliasi Al-Qaeda terhadap pasukan Suriah di perbatasan, menyebabkan warga sipil semakin tertekan dengan kekhawatiran runtuhnya perjanjian gencatan senjata dan mendorong serangan besar-besaran dari pasukan rezim dan sekutunya, Rusia.